Skip to main content

Hampir sulit dibayangkan bahwa sebelum pandemi banyak orang menghabiskan waktu lebih dari 40 jam di kantor ataupun di lingkungan kerja (yang sering kali hanya untuk terlihat bekerja kepada atasan atau rekan kerja lain), namun banyak yang  walau secara fisik hadir di ruang atau lingkungan kerja tetapi pikirannya sebenarnya melanglang buana, dan hal ini yang mengurangi produktifitas yang disebut sebagai presenteeism.

Sebelum pandemi, data dari satu survei yang kami lakukan dengan jumlah responden sebanyak 2100 orang di berbagai kota di Indonesia,menunjukkan bahwa 80% pekerja mengalami yang disebutkan sebagai presenteeism, dan bahkan mungkin selama masa pandemi, akan menjadi semakin memburuk, bukan dari prosentase nya, tetapi dari dampak presenteeism nya

Lingkungan Kerja Saat Ini

Sekarang ini, pekerjaan jarak jauh memberikan kesempatan kepada manajemen termasuk dengan seluruh pekerja untuk mengatasi permasalahan presenteeism yang sepertinya sudah semakin mendarah daging.  Kami pun sudah mengetahui dan menyadari dampak dari presenteeism ini dapat menjadi masalah besar yang merugikan perusahaan bahkan suatu negara triliunan rupiah karena orang yang mengalami presenteeism dapat menginfeksi orang lain; menciptakan lingkungan kerja yang tidak sehat yang menyebabkan banyak orang suka menghabiskan waktu berjam jam di lingkungan kerja bahkan menggunakan fasilitas kerja dengan produktivitas yang rendah.

Di tengah kondisi pandemi dimana banyak orang kerja jarak jauh, presenteeism telah menjadi digital: orang bekerja lebih lama dari sebelumnya, menanggapi email dan pesan setiap saat sepanjang hari untuk menunjukkan betapa ‘aktifnya mereka di hadapan kolega, klien dan mungkin atasan.

Budaya Kerja yang Mendorong Presenteeism

Seperti yang kami jelaskan sebelumnya, presenteeism adalah bagian dari kesehatan mental dimana pekerja terlihat bekerja tetapi tidak sepenuhnya fokus dan produktif terhadap apa yang dikerjakan. Presenteeism sendiri banyak dipengaruhi oleh situasi pribadi pekerja dimana sang pekerja juga menghadapi banyak permasalahan pribadi di luar pekerjaan yang mempengaruhi produktifitas

Tetapi selain masalah pribadi, presenteeism dipicu oleh budaya kerja, dimana stigma yang ada sekarang ini adalah mereka yang datang lebih awal di kantor (secara fisik) dan pulang paling akhir adalah orang orang yang rajin, cepat membalas pesan whatsapp atasan,mereka yang terlihat bekerja lebih keras pasti akan memberikan kontribusi lebih baik,merekat yang terlihat aktif didalam rapat pastilah orang yang produktif dan masih banyak hal lain

Oleh karena itu, budaya kerja jarak jauh dan telecommuting sering kali dipandang sebagai budaya kerja yang tidak bertanggung jawab, dan kecenderungannya, mereka yang kerja jarak jauh digaji lebih kecil  atau terkadang susah mendapat kenaikan gaji

Presenteeism akan dialami bagi para pekerja yang sebenarnya menghabiskan waktu kerja produktif hanya supaya terlihat produktif,dan ditambah lagi dengan beban masalah pribadi, akan semakin tinggi kadar presenteeismnya, semisal sebelum mengalami presenteeism dalam satu hari dapat terpakai 6 jam kerja produktif,maka dengan semakin tinggi kadar presenteeism, mungkin hanya 3 jam saja yang benar-benar terpakai untuk menghasilkan output secara produktif

Tingkat Kedaruratan Presenteeism Masa Kini

5 – 10tahun lalu mungkin isu ini tidak begitu penting, atau bahkan bagi beberapa industri yang menghasilkan produk barang kondisi presenteeism ini sangat mudah terdeteksi, dikarenakan tolak ukur sangat jelas, ketika pekerja ditargetkan menghasilkan output x unit, dan ternyata hasilnya adalah kurang dari x unit, tentunya faktor presenteeism akan menarik perhatian dari atasan atau pihak manajemen

Tetapi sekarang ini, hampir di setiap industri berorientasi pada ekonomi berbasis layanan dan pengetahuan, yang membuat jadi jauh lebih sulit untuk mengukur output ideal itu yang seperti apa baiknya atau tolak ukurnya bagaimana

Para pekerja saat sekarang ini masih pada stigma bahwa atasan hanya akan menghargai hal-hal yang kasat mata – sehingga banyak pekerja jatuh ke dalam perangkap presenteeism, terutama ketika mereka melihat rekan-rekan mereka melakukan hal yang sama untuk mengambil hati atasan ataupun manajmen. Hal ini terutama berlaku di masa ketidakstabilan ekonomi – seperti yang kita alami saat ini, akibat Covid-19 – ketika para pekerja takut akan stabilitas pekerjaan mereka. Mereka bekerja karena ingin membuktikan bahwa mereka dapat mengatasi stres dan unggul, serta dapat diandalkan.

Bagaimana mengatasi presenteeism?

Di era di mana cara kerja banyak mengalami transformasi luar biasa dan memerlukan pengawasan ekstra keras, desakan untuk menekan angka presenteeism menjadi tidak bisa ditawar tawar lagi, baik pekerjaan yang dilakukan secara fisik (butuh kehadiran di kantor) maupun digital

Ada dua dimensi yang perlu diperhatikan, yaitu dimensi lingkungan kerja dan dimensi kesehatan mental karyawan

Untuk dimensi lingkungan kerja, perusahaan sebaiknya mulai membiasakan penggunaan aplikasi kolaborasi untuk merencanakan, mengawasi dan mengukur target kinerja secara kuantitatif dan obyektif. Para pimpinan perlu untuk membuat target pencapaian serta jumlah pekerjaan yang sesuai dengan kapasitas dari tenaga kerja serta menghormati daftar prioritas pekerjaan yang disepakati bersama tanpa perubahan target terlalu drastis

Selain itu juga,para pimpinan juga perlu menghindari terlalu banyak pertemuan atau rapat secara online maupun offline yang terlalu lama (lebih dari 1 jam)

Untuk dimensi kesehatan mental karyawan, perusahaan perlu memikirkan lebih serius bagaimana memberdayakan berbagai kerjasama dengan pihak ketiga yang dapat membantu karyawan mengatasi masalah pribadi, sosial, keuangan dan kesehatan

Sebagaimana yang kami kutip dari perkataan Jeff Bezos yang merupakan salah satu orang terkaya di dunia pendiri Amazon.com “Saya tidak percaya akan yang disebut keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, semua saling terhubung menjadi satu lingkaran, ketika saya bahagia di rumah tentunya saya akan bekerja dengan hati yang gembira, dan ketika ada masalah di kantor atau tempat kerja, saya pun pasti tidak akan bisa merasakan kenyamanan ketika berada di rumah” Oleh karena itu, salah satu aspek yang dapat menekan angka presenteeism adalah memperhatikan kesejahteraan mental pegawai tanpa turut campur terhadap masalah pribadi terlalu jauh

Loyagami Life merupakan sebagai salah satu unit dari Loyagami yang fokus pada pengembangan bisnis secara vertikal, sejak didirikan awal, berkomitmen untuk membantu pengembangan bisnis tanpa melupakan pentingnya mengelola kesejahteraan para pegawai untuk menjaga produktifitas dan kreatifitas

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x