Keranjang

Pendiri Perseroan Terbatas (“PT”) sering diidentikkan dengan pemegang saham

Namun, apakah pemegang saham selalu berstatus sebagai pendiri PT? Artikel kali ini akan meluruskannya buat kamu, para calon pebisnis yang berniat mendirikan PT.

Pendiri Sudah Pasti Pemegang Saham

Sebagaimana yang sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, PT didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam UUPT serta peraturan pelaksanaannya.

PT harus didirikan oleh 2 orang atau lebih, baik oleh orang perorangan atau oleh badan hukum.

Para pendiri inilah yang kemudian biasa disebut sebagai pendiri PT. Para pendiri wajib mengambil bagian saham pada saat PT didirikan.

Identitas para pendiri juga wajib dicantumkan dalam akta pendirian PT. Bagian saham, rincian jumlah saham, dan nilai nominal saham yang telah ditempatkan dan disetor juga wajib dicantumkan dalam akta pendirian PT.

Oleh karena para pendiri PT wajib mengambil bagian saham, maka kita dapat menyebut para pendiri sebagai pemegang saham PT.

Maka, para pendiri PT sudah pasti merupakan pemegang saham ketika PT baru didirikan sebagai syarat pendirian PT, terutama terkait syarat pembuatan akta pendirian PT.

Para pendiri ini kemudian bersama-sama mengajukan permohonan untuk memperoleh Keputusan Menteri Hukum dan HAM mengenai pengesahan badan hukum PT.

Para pendiri jugalah yang berwenang untuk mengangkat anggota direksi dan dewan komisaris PT untuk pertama kali dalam akta pendirian.

Pemegang Saham Belum Tentu Pendiri

Namun, tidak selalu pemegang saham adalah pendiri PT. Misalnya, secara hukum diperbolehkan adanya pemindahan hak atas saham yang dilakukan pemegang saham. Pemindahan hak atas saham dilakukan dengan akta pemindahan hak, baik yang dibuat di hadapan notaris maupun di bawah tangan.

Anggaran Dasar (“AD”) PT pun dapat memuat persyaratan pemindahan hak atas saham, seperti:

  • Keharusan menawarkan terlebih dahulu kepada pemegang saham dengan klasifikasi tertentu atau pemegang saham lainnya;
  • Keharusan mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari Rapat Umum Pemegang Saham, anggota direksi dan dewan komisaris; dan/atau
  • Keharusan mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari instansi yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, jika hak atas saham berpindah karena waris.

Jika dalam AD diatur bahwa saham harus ditawarkan terlebih dahulu kepada pemegang saham lainnya, tapi dalam waktu 30 hari sejak dilakukan penawaran pemegang saham lainnya tidak mau membeli, maka saham dapat ditawarkan dan dijual kepada pihak ketiga.

Dengan dibelinya saham oleh pihak ketiga, maka hak atas saham beralih kepada pihak ketiga tersebut, sehingga ia dapat disebut sebagai pemegang saham.

Meski merupakan pemegang saham, sebagaimana yang kita ketahui, pihak ketiga tersebut tidak ikut mendirikan PT dan namanya tidak dicantumkan dalam akta pendirian selaku pendiri, sehingga ia bukan merupakan pendiri PT.

Selain pemindahan hak atas saham yang sudah ada, pihak ketiga dapat menjadi pemegang saham jika, di antaranya, ada penerbitan saham baru dalam rangka penambahan modal atau terjadinya akuisisi PT oleh pihak ketiga.

Maka, dapat disimpulkan bahwa pendiri PT pasti merupakan pemegang saham ketika PT didirikan, akan tetapi pemegang saham PT belum tentu merupakan seorang pendiri, karena ia bisa saja membelinya atau mendapatkannya dari pemindahan hak atas saham, penerbitan saham baru, atau akuisisi.

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x